Breaking News
light_mode
Trending Tags
Maaf, tidak ditemukan tags pada periode waktu yang ditentukan.
Beranda » Data & Riset » Selingkuh Bukan Sekadar Pengkhianatan, Benarkah Bisa Terkait Gangguan Kepribadian?

Selingkuh Bukan Sekadar Pengkhianatan, Benarkah Bisa Terkait Gangguan Kepribadian?

  • account_circle EditorLensa
  • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
  • visibility 100
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

LENSA PEREMPUAN — Perselingkuhan kerap dipahami sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen. Dalam banyak kasus, ia dikaitkan dengan masalah komunikasi, ketidakpuasan emosional, atau konflik yang tak terselesaikan dalam hubungan. Namun, muncul pertanyaan yang lebih dalam: benarkah selingkuh bisa menjadi tanda gangguan kepribadian tertentu?

Pertanyaan ini tidak sederhana. Psikologi modern menegaskan bahwa perselingkuhan tidak bisa disimpulkan dari satu faktor tunggal. Tidak semua pelaku selingkuh memiliki gangguan kepribadian, dan tidak semua gangguan kepribadian berujung pada perselingkuhan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola kepribadian tertentu dapat memengaruhi cara seseorang memandang komitmen, empati, dan kesetiaan.

Ketika Pola Kepribadian Mempengaruhi Relasi

Gangguan kepribadian merupakan kondisi psikologis yang ditandai oleh pola pikir, emosi, dan perilaku yang menetap serta menyimpang dari norma sosial. Pola ini kerap memengaruhi cara seseorang membangun hubungan intim, merespons konflik, dan menjaga komitmen jangka panjang.

Dalam konteks relasi romantis, kondisi ini dapat meningkatkan risiko konflik, ketidakstabilan emosional, hingga perselingkuhan—baik sebagai pelaku maupun korban.

Berikut beberapa gangguan kepribadian yang dalam kajian psikologi kerap dikaitkan dengan dinamika hubungan yang tidak stabil.

  1. Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder)

Individu dengan gangguan kepribadian ambang cenderung mengalami ketidakstabilan emosi yang intens, ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, serta kesulitan menjaga hubungan yang konsisten.

Dalam relasi, mereka dapat dengan cepat memuja pasangan, lalu tiba-tiba merasa dikhianati atau ditolak tanpa alasan yang jelas. Perubahan emosi yang drastis—dari marah, sedih, hingga cemas—dapat terjadi dalam waktu singkat.

Kondisi ini membuat komitmen jangka panjang menjadi tantangan. Dalam beberapa kasus, perselingkuhan muncul sebagai respons impulsif terhadap rasa takut kehilangan, kekosongan emosional, atau dorongan untuk mendapatkan validasi instan.

  1. Gangguan Kepribadian Narsisistik (Narcissistic Personality Disorder)

Gangguan kepribadian narsisistik ditandai dengan kebutuhan tinggi akan pengakuan, rasa superioritas, dan minimnya empati terhadap orang lain.

Dalam hubungan romantis, individu dengan kecenderungan narsisistik sering merasa pasangan tidak pernah “cukup”. Mereka mudah bosan, mencari perhatian di luar hubungan, dan sulit mempertimbangkan dampak emosional dari tindakannya terhadap pasangan.

Perselingkuhan dalam konteks ini kerap bukan soal cinta, melainkan tentang ego, kekuasaan, dan validasi diri.

  1. Gangguan Kepribadian Histrionik (Histrionic Personality Disorder)

Gangguan ini ditandai dengan kebutuhan kuat untuk menjadi pusat perhatian, ekspresi emosi yang berlebihan, serta kecenderungan bersikap dramatis.

Individu dengan kepribadian histrionik sering merasa tidak nyaman jika tidak mendapatkan sorotan. Mereka bisa menggunakan penampilan fisik, pesona, atau perilaku menggoda sebagai cara memperoleh perhatian—termasuk dalam situasi yang melanggar batas relasi.

Hubungan yang stabil dan mendalam kerap sulit terwujud karena fokus utama bukan pada kedekatan emosional, melainkan pada sensasi dan pengakuan sosial.

Perselingkuhan Tidak Pernah Berdiri Sendiri

Di luar faktor kepribadian, perselingkuhan juga dipengaruhi oleh banyak aspek lain, antara lain:

  • Konflik berkepanjangan dalam hubungan
  • Ketidakpuasan emosional atau seksual
  • Kesempatan yang berulang (misalnya lingkungan kerja)
  • Perbedaan nilai dan komitmen
  • Pelarian dari tekanan atau luka relasi
  • Keinginan akan variasi dan validasi diri

Artinya, perselingkuhan adalah fenomena kompleks, hasil interaksi antara kondisi psikologis individu dan dinamika hubungan.

Pentingnya Pendekatan yang Berkeadaban

Melabeli pasangan sebagai “bermasalah” tanpa pemahaman yang utuh justru dapat memperdalam luka. Jika perselingkuhan terjadi, langkah yang lebih sehat adalah membuka ruang dialog dan refleksi, baik secara personal maupun bersama profesional.

Konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu pasangan:

  • Memahami pola relasi masing-masing
  • Mengidentifikasi pemicu perselingkuhan
  • Menentukan apakah hubungan masih bisa dipulihkan secara sehat

Pada akhirnya, perselingkuhan bukan sekadar soal salah atau benar, tetapi tentang bagaimana seseorang memaknai komitmen, mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas pilihannya.

Di titik inilah, memahami aspek psikologis—tanpa stigma dan penghakiman—menjadi langkah penting menuju relasi yang lebih jujur, setara, dan berkeadaban.(LP)

  • Penulis: EditorLensa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Penyebab Keputihan Berwarna Kuning saat Hamil Tua

    5 Penyebab Keputihan Berwarna Kuning saat Hamil Tua

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Lensaperempuan
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Editor: Redaksi Lensa Perempuan | Senin, 02 Pebruari 2026 LENSA PEREMPUAN – Mommy, waspadai keputihan yang abnormal ini. Keputihan pada ibu hamil bisa dibilang merupakan hal yang wajar. Memang pada sebagian ibu hamil terjadi peningkatan frekuensi keputihan. Penyebabnya ialah peningkatan hormon estrogen serta aliran darah ke dalam vagina yang menyebabkan keputihan meningkat selama masa kehamilan. […]

  • Anak Keras Kepala? Ini Cara Mendidik dengan Tenang Tanpa Marah dan Paksaan

    Anak Keras Kepala? Ini Cara Mendidik dengan Tenang Tanpa Marah dan Paksaan

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle EditorLensa
    • visibility 63
    • 0Komentar

    LENSA PEREMPUAN — Setiap anak terlahir dengan karakter yang berbeda. Ada yang mudah diarahkan, ada pula yang tampak sulit diajak kompromi dan ingin menentukan pilihannya sendiri. Anak dengan karakter seperti ini kerap diberi label keras kepala. Padahal, di balik sikap tersebut sering tersembunyi potensi besar: keberanian mengambil keputusan, kemampuan berpikir kritis, serta dorongan kuat untuk […]

  • Representasi Perempuan di Media, Antara Stereotip dan Pemberdayaan

    Representasi Perempuan di Media, Antara Stereotip dan Pemberdayaan

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Lensaperempuan
    • visibility 152
    • 0Komentar

    LENSA PEREMPUAN — Media massa memegang peran strategis dalam membentuk cara pandang masyarakat terhadap realitas sosial. Ia tidak sekadar menjadi cermin peristiwa, tetapi juga produsen makna yang menentukan siapa yang dianggap penting, bagaimana suatu kelompok dipahami, serta nilai apa yang terus dinormalisasi dalam kehidupan publik. Dalam konteks tersebut, representasi perempuan di media menjadi isu krusial. […]

  • Peran Ganda Tanpa Kehilangan Cinta, Kisah Perempuan Bekerja Menjaga Karier dan Keluarga

    Peran Ganda Tanpa Kehilangan Cinta, Kisah Perempuan Bekerja Menjaga Karier dan Keluarga

    • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
    • account_circle Lensaperempuan
    • visibility 130
    • 0Komentar

      Editor: Redaksi Lensa Perempuan | Selasa, 02 Pebruari 2026 LENSA PEREMPUAN — Bagi banyak perempuan, menjadi ibu bekerja berarti menjalani dua dunia dalam satu tarikan napas. Di ruang publik, ada tuntutan profesionalisme, target kerja, dan tanggung jawab institusional. Di ruang domestik, ada anak-anak yang membutuhkan perhatian, keluarga yang menunggu kehadiran emosional, dan rumah yang […]

  • Persiapan Menyambut Ramadan, Pastikan Mama Melakukan 8 Hal Penting Ini

    Persiapan Menyambut Ramadan, Pastikan Mama Melakukan 8 Hal Penting Ini

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle EditorLensa
    • visibility 60
    • 0Komentar

    LENSA PEREMPUAN — Ramadan selalu datang membawa suasana yang berbeda. Ada harap, ada rindu, dan ada semangat untuk menata ulang ritme hidup agar lebih tenang dan bermakna. Setelah beberapa tahun dijalani dalam keterbatasan akibat pandemi, Ramadan kini kembali hadir dalam suasana yang lebih lapang—lebih hangat, lebih akrab, dan lebih hidup bersama keluarga. Bagi Mama, Ramadan […]

  • Menyambut Imlek dengan Makna, Persiapan Tradisi dan Harapan di Tahun Shio Kuda

    Menyambut Imlek dengan Makna, Persiapan Tradisi dan Harapan di Tahun Shio Kuda

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle EditorLensa
    • visibility 76
    • 0Komentar

    LENSA PEREMPUAN — Imlek bukan sekadar pergantian kalender, melainkan momen refleksi kolektif tentang harapan, keseimbangan, dan pembaruan hidup. Bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, perayaan Tahun Baru Imlek selalu menjadi ruang pertemuan antara tradisi, keluarga, dan doa-doa yang disematkan dengan penuh makna. Secara etimologis, kata Imlek berasal dari dialek Hokkien, yakni “Im” yang berarti bulan dan […]

expand_less