Selingkuh Bukan Sekadar Pengkhianatan, Benarkah Bisa Terkait Gangguan Kepribadian?
- account_circle EditorLensa
- calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
- visibility 61
- comment 0 komentar
- print Cetak

Young woman typing text message on cell phone in the bedroom.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
LENSA PEREMPUAN — Perselingkuhan kerap dipahami sebagai bentuk pengkhianatan terhadap komitmen. Dalam banyak kasus, ia dikaitkan dengan masalah komunikasi, ketidakpuasan emosional, atau konflik yang tak terselesaikan dalam hubungan. Namun, muncul pertanyaan yang lebih dalam: benarkah selingkuh bisa menjadi tanda gangguan kepribadian tertentu?
Pertanyaan ini tidak sederhana. Psikologi modern menegaskan bahwa perselingkuhan tidak bisa disimpulkan dari satu faktor tunggal. Tidak semua pelaku selingkuh memiliki gangguan kepribadian, dan tidak semua gangguan kepribadian berujung pada perselingkuhan. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pola kepribadian tertentu dapat memengaruhi cara seseorang memandang komitmen, empati, dan kesetiaan.
Ketika Pola Kepribadian Mempengaruhi Relasi
Gangguan kepribadian merupakan kondisi psikologis yang ditandai oleh pola pikir, emosi, dan perilaku yang menetap serta menyimpang dari norma sosial. Pola ini kerap memengaruhi cara seseorang membangun hubungan intim, merespons konflik, dan menjaga komitmen jangka panjang.
Dalam konteks relasi romantis, kondisi ini dapat meningkatkan risiko konflik, ketidakstabilan emosional, hingga perselingkuhan—baik sebagai pelaku maupun korban.
Berikut beberapa gangguan kepribadian yang dalam kajian psikologi kerap dikaitkan dengan dinamika hubungan yang tidak stabil.
- Gangguan Kepribadian Ambang (Borderline Personality Disorder)
Individu dengan gangguan kepribadian ambang cenderung mengalami ketidakstabilan emosi yang intens, ketakutan berlebihan akan ditinggalkan, serta kesulitan menjaga hubungan yang konsisten.
Dalam relasi, mereka dapat dengan cepat memuja pasangan, lalu tiba-tiba merasa dikhianati atau ditolak tanpa alasan yang jelas. Perubahan emosi yang drastis—dari marah, sedih, hingga cemas—dapat terjadi dalam waktu singkat.
Kondisi ini membuat komitmen jangka panjang menjadi tantangan. Dalam beberapa kasus, perselingkuhan muncul sebagai respons impulsif terhadap rasa takut kehilangan, kekosongan emosional, atau dorongan untuk mendapatkan validasi instan.
- Gangguan Kepribadian Narsisistik (Narcissistic Personality Disorder)
Gangguan kepribadian narsisistik ditandai dengan kebutuhan tinggi akan pengakuan, rasa superioritas, dan minimnya empati terhadap orang lain.
Dalam hubungan romantis, individu dengan kecenderungan narsisistik sering merasa pasangan tidak pernah “cukup”. Mereka mudah bosan, mencari perhatian di luar hubungan, dan sulit mempertimbangkan dampak emosional dari tindakannya terhadap pasangan.
Perselingkuhan dalam konteks ini kerap bukan soal cinta, melainkan tentang ego, kekuasaan, dan validasi diri.
- Gangguan Kepribadian Histrionik (Histrionic Personality Disorder)
Gangguan ini ditandai dengan kebutuhan kuat untuk menjadi pusat perhatian, ekspresi emosi yang berlebihan, serta kecenderungan bersikap dramatis.
Individu dengan kepribadian histrionik sering merasa tidak nyaman jika tidak mendapatkan sorotan. Mereka bisa menggunakan penampilan fisik, pesona, atau perilaku menggoda sebagai cara memperoleh perhatian—termasuk dalam situasi yang melanggar batas relasi.
Hubungan yang stabil dan mendalam kerap sulit terwujud karena fokus utama bukan pada kedekatan emosional, melainkan pada sensasi dan pengakuan sosial.
Perselingkuhan Tidak Pernah Berdiri Sendiri
Di luar faktor kepribadian, perselingkuhan juga dipengaruhi oleh banyak aspek lain, antara lain:
- Konflik berkepanjangan dalam hubungan
- Ketidakpuasan emosional atau seksual
- Kesempatan yang berulang (misalnya lingkungan kerja)
- Perbedaan nilai dan komitmen
- Pelarian dari tekanan atau luka relasi
- Keinginan akan variasi dan validasi diri
Artinya, perselingkuhan adalah fenomena kompleks, hasil interaksi antara kondisi psikologis individu dan dinamika hubungan.
Pentingnya Pendekatan yang Berkeadaban
Melabeli pasangan sebagai “bermasalah” tanpa pemahaman yang utuh justru dapat memperdalam luka. Jika perselingkuhan terjadi, langkah yang lebih sehat adalah membuka ruang dialog dan refleksi, baik secara personal maupun bersama profesional.
Konsultasi dengan psikolog atau konselor dapat membantu pasangan:
- Memahami pola relasi masing-masing
- Mengidentifikasi pemicu perselingkuhan
- Menentukan apakah hubungan masih bisa dipulihkan secara sehat
Pada akhirnya, perselingkuhan bukan sekadar soal salah atau benar, tetapi tentang bagaimana seseorang memaknai komitmen, mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Di titik inilah, memahami aspek psikologis—tanpa stigma dan penghakiman—menjadi langkah penting menuju relasi yang lebih jujur, setara, dan berkeadaban.(LP)
- Penulis: EditorLensa

Saat ini belum ada komentar